Sharing Ramadhan: Keutamaan Ayat Kursi

Hikayat: Keimanan Umat Terdahulu

Ada sebuah kisah yang berkaitan dengan hadis di atas. Kisah ini mengandung kabar gembira bagi orang-orang mukmin. Umat-umat dulu sangatlah lemah hati dan sedikit pemahaman. Mereka tidak mau membenarkan para rosul
yang diutus untuk mereka kecuali dengan bukti mukjizat atau melihat secara langsung, seperti
ketika kaum Musa berkata kepadanya, “Kami tidak akan percaya kepadamu hingga kami
melihat Allah secara langsung.” Kemudian petir menyambar mereka. Mereka juga bertanya
kepada Musa, “Hai Musa! Apakah Tuhanmu tidur?” Di dalam Kitab Taurat tertuliskan bahwa Allah tidaklah mengantuk dan tidur.
Kemudian Musa menjawab pertanyaan kaum nya itu dengan keterangan yang tertulis dalam
Kitab Taurat. Kemudian mereka bertanya, “Bagaimana bisa Tuhanmu tidak tidur?” Kemudian Allah memberikan wahyu kepada
Musa untuk mengisi 2 (dua) botol dengan air. Kemudian Musa mengambil 2 botol dengan
tangannya. Musa membawa keduanya. Kemudian Allah membuat Musa tertidur sehingga 2 botol tersebut jatuh ke tanah
dan pecah. Kemudian Allah berkata, “Hai Musa! Katakan kepada umatmu ‘Andaikan Allah itu tidur maka seluruh alam akan hancur. Pahamilah perumpamaan 2 botol itu!’
Sesungguhnya Allah memuji umat Muhammad. Dia berfirman, “Kalian adalah umat yang terbaik.” Hal ini dikarenakan mereka membenarkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama tanpa menyaksikan mukjizat- mukjizat dan membuat perumpamaan setelah sekian tahun lamanya.

Sharing Ramadhan: Menolong Sesama

Hikayat: Kuda dan Pemiliknya

Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Abdullah bin Mubarok melihat seekor kuda di pasar yang dijual dengan harga 40 dirham. Ia bertanya kepada penjualnya: “Apa yang membuat kuda ini menjadi begitu murah?” “Kuda ini memiliki beberapa kekurangan,” jawab si penjual. “Apa kekurangan-kekurangannya itu?” tanya Abdullah bin Mubarok. “Kuda ini berlari pelan dan tidak bisa mengejar musuh. Kuda ini
juga mudah lelah jika berlari hingga nantinya musuh bisa mengejarnya. Kuda ini juga akan
meringkik dan bersuara keras di tempat yang seharusnya tenang,” jelas si penjual.
“Wah kalau 40 dirham terlalu mahal!” kata Abdullah bin Mubarok. Kemudian Abdullah pergi dan tidak membelinya. Akan tetapi,
muridnya membeli kuda itu. Pada saat tiba waktunya perang, si murid ikut berperang dengan naik kuda tersebut. Kuda itu ternyata dapat berperan sangat baik. Abdullah bertanya kepada si murid: “Apakah kamu tahu kekurangan- kekurangan kudamu?”
“Iya! Kuda ini memiliki kekurangan-kekurangan seperti yang mereka katakan. Tetapi
ketika aku membelinya, aku berkata di telinganya ‘Hai kuda! Sesungguhnya aku telah
meninggalkan dosa dan bertaubat kembali kepada Allah. Oleh karena itu tinggalkanlah kekurangan- kekurangan pada dirimu!’ Kemudian kuda ini menggerakkan kepalanya tiga kali. Sepertinya kuda ini menjawab dengan senang karena aku telah meninggalkan dosaku. Aku jadi mengerti kalau kekurangan kekurangan itu berasal dari pemilik kudanya dulu, bukan dari kudanya, karena kuda-kuda orang kafir dan yang dzalim akan melaknati pemilik- pemiliknya, bahkan kuda-kuda itu
akan menjatuhkan mereka dari punggungnya karena Firman Allah; ‘Ingatlah! Laknat Allah akan menimpa orang-orang dzalim. Ketika Allah melaknati seseorang maka segala sesuatu pun juga akan melaknatinya.’ Begitu juga kuda ini melaknati pemiliknya dulu karena ia adalah orang kafir atau dzalim atau munafik atau
sombong hingga kudanya menjatuhkannya dari punggung ketika ia menaikinya. Oleh karena
itu dapat diketahui bahwa semua makhluk hidup akan merasa bahagia dan jinak kepada
pemiliknya karena rasa bahagia yang diberikan olehnya. Begitu juga rasa bahagia itu akan menjelma bentuk di Hari Kiamat. Kemudian jelmaan itu akan datang. Pemiliknya akan mengendalikannya. Kemudian jelmaan rasa bahagia itu akan membawanya ke surga,” jawab si murid.

Sharing Ramadhan: Malu Kepada Allah

Ada sebuah cerita bahwa ada seorang wanita mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alahi wa
sallama. Ia berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa
besar. Berilah aku solusi!” Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama menjawab, “Bertaubatlah kepada Allah!” Wanita berkata, “Sesungguhnya bumi telah mengetahui dosaku
karena aku melakukan dosa itu di atasnya. Bumi pastinya akan menjadi saksi terhadapku kelak di
Hari Kiamat.” Rasulullah shollallahu ‘alahi wa
sallama berkata, “Sesungguhnya bumi tidak akan memberikan kesaksian atasmu. Allah berfirman Pada hari dimana bumi diganti
dengan selain bumi.”Wanita itu berkata, “Sesungguhnya langit telah mengetahui dosaku dari atas. Pastinya ia akan memberikan
kesaksian terhadapku di Hari Kiamat.” Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama menjawab “Sesungguhnya Allah akan melipat langit sebagaimana Firman-Nya: Pada hari dimana Kami akan melipat langit seperti halnya para malaikat melipat buku-buku
catatan amal.” Wanita itu melanjutkan, “Wahai
Rasulullah! Sesungguhnya para malaikat pencatat amal telah menulis dosaku di buku catatan amal.” Rasulullah shollallahu ‘alahi wa
sallama menjawab, “Allah berfirman sungguh kebaikan- kebaikan dapat menghapus kejelekan-kejelekan. Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa
sama sekali.” Kemudian Wanita itu berkata, “Sesungguhnya para malaikat melihat perbuatan-perbuatan dosaku. Pastinya mereka akan memberikan kesaksian atas keburukan perbuatan- perbuatanku.” Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallama menjawab “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan membuat lupa
para malaikat pencatat amal di Hari Kiamat (seperti yang disebutkan dalam dalam kitab
Rubai al-Abror bahwa Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama bersabda, “Ketika seorang hamba bertaubat kepada Allah maka Allah akan menerima taubatnya dan membuat lupa para malaikat pencatat amal atas apa yang pernah hamba lakukan.”) Wanita itu berkata, “Allah
berfirman: Pada hari dimana lisan manusia, tangan mereka dan kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang pernah mereka
lakukan.”Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallama menjawab, “Allah akan berkata kepada bumi dan anggota-anggota tubuh hamba, ‘Sembunyikanlah kesalahan- kesalahannya dan jangan kalian perlihatkan selamanya.’” Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah! Benar apa yang anda ktakan. Itu semua adalah untuk orang yang benar-benar taubat. Tetapi bukankah di Hari Kiamat, rasa malu kepada Allah itu ada, lantas bagaimana hamba akan berkata? Padahal anda, Wahai Rasulullah!, pernah mengatakan bahwa ketika Hari Kiamat telah terjadi maka para pendosa akan menyebutkan dosa- dosa mereka, kemudian mereka malu kepada Allah. Keringat mereka bercucuran karena rasa malu itu. Sebagian dari mereka ada yang keringatnya menetes sampai lutut. Sebagian dari mereka ada yang keringatnya menetes sampai pusar dan
sebagian dari mereka ada yang keringatnya menetes sampai leher.” Kemudian Rasulullah shollallahualaihi wa sallama berkata, “Hai
orang-orang yang beriman! Ingatlah pada Hari itu (Kiamat)! Janganlah kalian melupakannya!
Bertaubatlah kepada Allah! Dan beribadahlah kalian kepada-Nya! Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Penerima taubat dan Yang Pengasih.”

Sharing Ramadhan: Iman Yang Paling Luar Biasa

Hikayat: Batu Penyelamat
Diceritakan pada suatu hari orang-orang kafir berkumpul di rumah Abu Jahl. Tiba-tiba
datanglah seorang laki-laki bernama Thorik as-Soidlani. Ia berkata: “Sungguh mudah membunuh Muhammad jika kalian setuju
dengan usulanku.” “Bagaimana itu? Hai Thorik!?” tanya orang-orang. “Muhammad kini sedang bersandaran di tembok Ka’bah. Kalau salah satu dari kita berangkat dan menjatuhinya batu besar dari atas Ka’bah maka seketika ia akan mati,” jelas Thorik. Kemudian ada seorang laki-laki yang bernama Syihab berdiri dan berkata; “Kalau kalian mengizinkanku
maka aku akan membunuh Muhammad”. Kemudian orang-orang pun mengizinkan Syihab untuk melakukan usulan Thorik tadi.
Saat Syihab telah sampai di Ka’bah, ia naik ke atasnya dengan membawa batu besar. Kemudian ia menjatuhkannya ke arah tepat
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Tiba-tiba dari tembok Ka’bah, keluarlah sebuah batu
yang menahan batu besar yang dijatuhkan itu di udara hingga Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallama pun berdiri dan berpindah dari tempatnya. Setelah beliau berpindah dari tempatnya, baru batu besar itu jatuh ke tanah dan batu yang keluar dari tembok Ka’bah pun juga kembali ke tempat semula. Melihat kejadian itu, Syihab sangat heran. Kemudian ia turun dari Ka’bah dan mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Kemudian ia masuk Islam dan keislamannya pun menjadi
bagus. Begitu juga, Thorik dan orang-orang yang melihat mukjizat ini akhirnya masuk islam.
Beriman kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di akhir zaman merupakan salah
derajat keimanan yang paling utama karena orang-orang yang hidup di akhir zaman menetapi keimanan dan Islam tanpa disertai pernah melihat Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama secara langsung dan melihat mukjizat-mukjizatnya

Sharing Ramadhan: Hikmah Sakit

Hikayat: Laki-laki Fasik dari Bani Israil

Diceritakan bahwa pada zaman Bani Israil, ada seorang laki-laki yang fasik dan yang banyak dosa. Ia tidak mau berhenti dari kefasikannya. Para penduduk di tempat dimana ia tinggal juga tidak mampu menghentikan kefasikannya. Mereka memohon kepada Allah
atas kefasikan laki-laki itu. Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Musa ‘alaihi as- salam “Sesungguhnya di antara Bani Israil ada seorang laki-laki fasik. Usir ia dari tempat tinggal mereka agar siksaan api tidak menimpa
mereka!” Kemudian Musa ‘alaihi as-salam
mendatangi laki-laki itu dan mengusirnya. Setelah diusir, Laki- laki itu pergi ke sebuah desa. Allah memerintahkan Musa ‘alaihi as- salam mengusirnya dari desa itu. Musa ‘alaihi as-salam pun mengusirnya dari desa itu. Laki-
laki itu keluar lagi pergi menuju padang luas dan menuju tempat yang tidak ada penghuninya, tidak ada burung berterbangan, dan tidak ada binatang-binatang lain.
Beberapa waktu kemudian, laki- laki itu jatuh sakit di tempat tersebut. Tidak ada seseorang pun yang di dekatnya yang bisa menolongnya. Karena saking sakitnya, ia pun jatuh ke tanah. Di tengah-tengah menderita sakit, laki-laki itu berkata: “Ya Allah! Andai ibuku berada di
sampingku niscaya ia akan mengasihaniku dan menangisi betapa hinanya diriku. Andai bapakku berada di sampingku niscaya ia akan menolongku, memandikanku dan juga mengkafaniku. Andai istriku berada di sampingku niscaya ia akan menangis karena berpisah dariku. Andai anak-anakku berada
di sampingku niscaya merek semua akan menangis di belakang jenazahku dan berkata, ‘Ya Allah! Ampunilah bapakku yang
terasingkan, yang lemah, yang banyak maksiat, yang fasik, yang terusir dari kota ke kota, dari kota ke desa, dan dari desa ke padang luas. Ia keluar dari dunia menuju akhirat dengan kondisi putus asa dari segala sesuatu kecuali dari rahmat-Mu.” Laki-laki itu melanjutkan dengan berdoa, “Ya Allah! Apabila Engkau memisahkanku dari ibuku, anak- anakku, dan istriku maka janganlah Engkau memisahkanku dari rahmat-Mu. Dan apabila Engkau membakar hatiku dengan berpisah dari mereka maka janganlah Engkau membakarku dengan api neraka-Mu karena kemaksiatanku!”
Kemudian Allah mengutus untuknya bidadari yang menjelma menjadi ibunya, bidadari yang
menjelma menjadi istrinya, mengutus anak-anak kecil surga yang menjelma menjadi anak- anaknya, dan satu malaikat yang menjelma menjadi bapaknya. Mereka semua duduk di samping laki-laki itu dan menangisinya
seolah-olah mereka itu adalah anak-anaknya, istrinya, ibunya dan bapaknya yang hadir di
sampingnya. Kemudian hati laki- laki itu pun menjadi lega dan ia berdoa: “Ya Allah! Janganlah Engkau memutuskanku dari rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Kemudian laki-laki itu mati menuju kepada Allah dengan keadaan suci dari dosa-dosa dan terampuni. Kemudian Allah memberi wahyu kepada Musa, “Hai Musa! Pergilah ke padang luas ini dan tempat ini. Disana ada seorang kekasih yang mati dari kalangan para kekasih- Ku. Mandikan ia! Kafani ia! Dan Sholati ia!” Ketika Musa AS telah sampai di tempat yang diwahyukan, ia melihat laki-laki yang ia pernah mengusirnya dari kota dan dari
desa sesuai dengan perintah Allah. Musa ‘alaihi as-salam juga melihat para bidadari menangisinya. Kemudian Musa berkata: “Ya Allah! Bukankah ia adalah laki-laki fasik yang aku usir dari kota sesuai perintah-Mu?”
Allah menjawab “Iya! Hai Musa! Tetapi aku telah mengasihinya dan mengampuni dosa-dosanya sebab rintihannya saat sakit, dan
sebab terpisahnya ia dari tempat tinggal, kedua orang tua, anak- anak dan istri. Kemudian Aku
mengutus para bidadari yang menjelma menjadi ibunya dan malaikat yang menjelma menjadi
bapaknya karena mengasihi betapa hinanya dirinya dalam keasingannya. Sesaat ketika laki-
laki terasing itu mati, para penduduk langit dan bumi menangisinya karena kasihan dengannya. Lantas pantaskah aku tidak mengasihinya padahal Aku adalah Dzat Yang Paling Mengasihi?